Diskusi "Lost Generation" oleh LDK STAI Nur El Ghazy Bekasi: Menakar Arah Generasi Muda

 


Haidar - Pada hari Minggu, 31 Juli 2022, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Sekolah Tinggi Agama Islam Nur El Ghazy Bekasi menggelar sebuah diskusi inspiratif bertema "Lost Generation". Kegiatan ini dilaksanakan di Ma’had Bustanul Qur’an Assuryaniyah, Mustika Jaya, Kota Bekasi.

Peserta dari Berbagai Elemen Kampus dan Daerah

Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai kampus dan organisasi kepemudaan, antara lain:

  • Universitas Panca Sakti

  • IBM Muhammadiyah Bekasi

  • STAI Nur El Ghazy

  • STIU Darul Hikmah Bekasi

  • Perwakilan pemuda dari Bekasi, Jakarta, dan Tangerang

Narasumber dan Pemantik Diskusi

Acara ini menghadirkan dua pembicara utama:

  • Firman, aktivis mahasiswa

  • Syarif Haydar, Ketua Komisariat PMII STAI Nur El Ghazy Bekasi

Keduanya menyampaikan pandangan kritis dan solusi terhadap fenomena generasi yang dianggap “hilang arah” atau Lost Generation.

Pemaparan Firman: Generasi yang Kehilangan Arah

Dalam paparannya, Firman menjelaskan bahwa istilah Lost Generation sebenarnya sudah muncul sejak era Perang Dunia I (1914) dan Perang Dunia II (1939), di mana generasi muda mengalami kekosongan arah hidup akibat situasi global yang kacau.

Di era Generasi Alfa saat ini, masalah berbeda namun tetap signifikan. Banyak remaja cenderung menjadi pengikut tren media sosial tanpa menyaring dampak positif atau negatif. Firman menekankan bahwa:

"Banyak generasi muda hanya ikut-ikutan arus digital tanpa arah yang jelas. Akibatnya, mereka kehilangan nilai, identitas, bahkan jati diri."

Sebagai contoh, ia menyebut fenomena seperti Citayam Fashion Week yang kerap menimbulkan keresahan karena kerumunan tanpa tujuan produktif. Remaja yang tidak diarahkan atau dibina dengan nilai positif dikhawatirkan akan gagal melanjutkan estafet peradaban Islam di Indonesia.

Pandangan Syarif Haydar: Solusi Menghindari Lost Generation

Menanggapi isu tersebut, Syarif Haydar, Ketua Komisariat PMII, menegaskan pentingnya pembentukan karakter remaja. Ia mengusulkan lima karakter utama yang harus dimiliki generasi muda agar tidak menjadi bagian dari lost generation:

  1. Aktif dan Produktif

  2. Positif

  3. Kreatif dan Kolaboratif

  4. Solutif

  5. Berwibawa

Menurutnya, dengan membentuk karakter di atas, remaja dapat diarahkan untuk berkontribusi secara nyata dan tidak hanya menjadi "korban" arus globalisasi dan budaya populer yang merusak.

Arah Masa Depan: Pemuda sebagai Penjaga Peradaban

Diskusi ini menegaskan kembali bahwa generasi muda adalah aset penting bangsa. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat harus menjadi fasilitator dalam membimbing dan mengedukasi generasi muda.

"Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jika mereka kehilangan arah, maka hilang pula masa depan peradaban."

Kesimpulan dan Harapan

Diskusi bertema Lost Generation ini menjadi momentum refleksi dan edukasi bagi generasi muda untuk lebih peka terhadap peran mereka dalam masyarakat. LDK STAI Nur El Ghazy Bekasi berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut demi menyelamatkan dan membentuk generasi yang aktif, positif, dan berdaya saing tinggi di tengah tantangan zaman.


Posting Komentar untuk "Diskusi "Lost Generation" oleh LDK STAI Nur El Ghazy Bekasi: Menakar Arah Generasi Muda"