KH. Mintar Djahari: Ulama Karismatik Bekasi yang Ditakuti Belanda dan Disegani Para Jawara
Haidar - Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga tanah para pejuang dan ulama besar yang memiliki andil besar dalam kemerdekaan Indonesia. Salah satu sosok yang melegenda namun jarang terekspos secara luas adalah KH. Mintar Djahari. Beliau adalah perpaduan sempurna antara kedalaman ilmu agama (ulama) dan ketangguhan fisik (jawara).
Namanya harum di wilayah Bekasi hingga Banten sebagai sosok yang tidak hanya menaklukkan musuh dengan senjata, tetapi juga dengan akhlak dan karomah. Mari kita telusuri jejak perjuangan sang singa podium dari Kampung Ceger ini.
Asal-Usul Kampung Ceger dan Jejak Jawara Banten
Kisah KH. Mintar Djahari tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kampung Ceger, Bekasi. Terletak sekitar 30 KM dari pusat Kota Bekasi, Ceger dulunya adalah bagian dari Kampung Bulak Kunyit yang sunyi.
Nama "Ceger" sendiri berasal dari kata "Jeger" atau "Nyeger", yang merujuk pada tempat persinggahan para jawara asal Banten. Para jawara ini diutus oleh Sultan Banten untuk memperluas lahan pertanian dan sistem irigasi di pesisir utara Jawa. Tujuannya mulia: menciptakan lumbung pangan bagi para pejuang Muslim yang sedang bergerilya melawan penjajah Belanda.
Di kawasan ini, pengaruh Banten sangat kuat. Hal ini terlihat dari penamaan kampung yang berbasis flora, seperti:
Kampung Pisang Batu
Kampung Utan Salak
Kampung Kranji
Kampung Pete Cina
Hingga saat ini, masyarakat di wilayah tersebut masih fasih menggunakan bahasa Jawa Banten atau Jawa Serang sebagai identitas warisan leluhur mereka.
Dari Sakman Menjadi Muhammad Djahari
Lahir sekitar tahun 1848, sosok ini awalnya diberi nama Sakman oleh orang tuanya, Mukhtarudin bin Ajir dan Darminah. Nama Sakman kemudian sering dimaknai oleh masyarakat sebagai "Sakti Mandraguna". Hal ini bukan tanpa alasan, sebab sejak kecil ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam ilmu kanuragan (beladiri) dan kecerdasan dalam menyerap ilmu agama.
Sakman muda dikirim ke berbagai pesantren untuk mendalami syariat Islam. Sepulangnya dari pesantren, ia merasa prihatin melihat kondisi masyarakat di sekitar Utan Salak dan Bulak Kunyit. Banyak dari mereka yang mengaku utusan Banten namun justru meninggalkan salat, tidak berpuasa, bahkan terjebak dalam praktik syirik dan kemaksiatan.
Pada usia 17 tahun (1865), ia kembali ke Banten untuk berguru kepada para kiai besar. Sepulangnya ke Bekasi pada 1875, ia menikah dengan Darminah binti H. Sanusi dan mulai menetap di Kampung Ceger. Di sinilah dakwah radikalnya dimulai—bukan radikal dalam arti negatif, melainkan berani dalam memberantas kemusyrikan.
Menaklukkan Jawara dengan Karomah dan Ilmu Kanuragan
Dakwah KH. Mintar Djahari awalnya mendapat tantangan keras dari para jawara lokal. Mereka merasa terganggu dengan ajaran Islam yang dibawa Sakman karena melarang praktik sesaji dan perjudian.
Beberapa peristiwa legendaris yang membuktikan kekuatannya antara lain:
Adu Kesaktian: Banyak jawara mencoba menyerang Sakman dengan golok, tombak, dan rotan. Namun, dengan izin Allah, senjata-senjata tersebut patah saat mengenai tubuhnya atau dipatahkan dengan tangan kosong.
Gelas Retak: Suatu kali, ia hendak diracun oleh penduduk yang berpura-pura menjamunya. Saat Sakman hendak meminum air tersebut, gelasnya tiba-tiba retak dan hancur berkeping-keping. Melihat karomah tersebut, si tuan rumah langsung bertobat dan menjadi muridnya.
Pemberantasan Maksiat: Sakman tidak gentar menghentikan pertunjukan Ronggeng yang berbau maksiat dan menghancurkan tempat-tempat sesaji di bawah pohon besar.
Ketegasan inilah yang membuat para jawara yang tadinya memusuhi, justru berbalik menjadi pengikut setia dan murid di pesantrennya.
Pendidikan dan Thariqat: Menempa Spiritual Pejuang
Pada tahun 1891, atas saran sahabat karibnya, Syaikh Asnawi Caringin, Sakman menunaikan ibadah haji. Di Tanah Suci, ia berguru kepada ulama besar seperti K.H.M Syadzali dan Syaikh Al-Maliki Al-Maky. Sepulangnya dari Makkah, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Djahari atau dikenal sebagai K.H.M. Djahari Mintar Al-Bantani.
KH. Djahari bukan sekadar guru ngaji biasa. Beliau adalah seorang Mursyid (pemimpin) Thariqat Qodiriyyah wan Naqsabandiyyah. Ia menanamkan nilai-nilai tauhid yang kuat kepada murid-muridnya, karena menurutnya, hanya jiwa yang bertauhidlah yang berani melawan penjajah tanpa rasa takut mati.
Sang Motivator Revolusi: Hubungan dengan KH. Noer Alie dan Bung Karno
Ketika genderang perang kemerdekaan ditabuh, KH. Djahari berada di garis terdepan secara spiritual. Beliau menjalin hubungan erat dengan KH. Noer Alie (Pahlawan Nasional dari Bekasi).
Hampir semua laskar rakyat sebelum berangkat ke medan perang—seperti Laskar Hizbullah, Sabilillah, hingga kelompok Sumber Nyowo dan Galak Hitam—datang ke Kampung Ceger untuk meminta doa dan restu dari Kiai Djahari. Beliau sering berkeliling pos-pos perjuangan di Gabus, Tambun, hingga Jatinegara dengan menunggangi kuda putih kesayangannya untuk membakar semangat para pejuang.
Apresiasi Presiden Sukarno
Atas jasanya yang luar biasa dalam memobilisasi massa dan memberikan dukungan spiritual bagi kemerdekaan, Presiden Sukarno dikabarkan pernah datang langsung ke Kampung Ceger. Bung Karno menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam karena dukungan Kiai Djahari sangat krusial dalam menjaga stabilitas dan semangat rakyat Bekasi-Banten di masa revolusi.
Keberanian di Depan Moncong Senjata Belanda
Belanda sangat membenci Kiai Djahari karena ia berulang kali berhasil membebaskan Syaikh Asnawi Caringin dari penjara kolonial (di Purwakarta dan Cianjur). Ada sebuah cerita rakyat yang sangat populer:
Suatu hari, Kiai Djahari dihadang oleh pasukan Belanda yang sedang mencarinya. Seorang tentara menodongkan pistol dan bertanya, "Tuan kenal dengan Djahari?"
Dengan tenang, Kiai mengeluarkan sehelai daun rokok kawung (aren) dan mengarahkannya ke dada tentara tersebut sambil menjawab, "Ya, saya yang namanya Djahari."
Seketika, tentara tersebut gemetar ketakutan dan memohon ampun. Konon, di mata tentara Belanda itu, rokok kawung yang dipegang Kiai tampak seperti pistol yang sangat mematikan.
Warisan dan Wafatnya Sang Waliyullah
KH. Mintar Djahari wafat pada tahun 1972 dalam usia yang sangat panjang, yakni 125 tahun. Hingga akhir hayatnya, fisiknya tetap kekar dan suaranya tetap lantang. Beliau dimakamkan di belakang Masjid Agung Al-Ajhariyyah, Ceger, Bekasi.
Beliau meninggalkan warisan yang luar biasa bagi umat Islam, di antaranya:
Pondok Pesantren Al-Ajhariyyah.
10 Masjid Jami' dan 69 Musholla binaan.
Puluhan lembaga pendidikan mulai dari MI, MTs, hingga Madrasah Aliyah.
Majelis Dzikir Thariqat yang masih lestari hingga sekarang.
Kesimpulan dan Teladan
Kisah KH. Mintar Djahari mengajarkan kita bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran doa dan kekuatan spiritual para ulama. Beliau membuktikan bahwa untuk menjadi disegani, seseorang harus memiliki integritas antara ilmu, amal, dan keberanian membela kebenaran.
Bagi Anda yang ingin berziarah, makam beliau di Kampung Ceger selalu ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam Jumat, sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar sang "Singa Ceger" bagi agama dan bangsa.

Posting Komentar untuk "KH. Mintar Djahari: Ulama Karismatik Bekasi yang Ditakuti Belanda dan Disegani Para Jawara"
Posting Komentar